<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-34518436</id><updated>2011-04-21T11:19:39.405-07:00</updated><title type='text'>Alkisah</title><subtitle type='html'>Inilah sepenggal kisah yang dijalani semasa menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ubut.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34518436/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubut.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sepenggal Kisah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13799876874034519170</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34518436.post-115841462103806841</id><published>2006-09-16T06:34:00.000-07:00</published><updated>2006-09-16T06:50:21.053-07:00</updated><title type='text'>Dari Ujung Barat ke Ujung Timur</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/135/3805/1600/ng.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/135/3805/200/ng.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Musibah nasional gempa bumi dan gelombang tsunami yang menimpa kota Serambi Mekah (julukan Nanggroe Aceh Darussalam, red) pada tanggal 26 Desember 2006, tepatnya di hari minggu nan cerah jam 08.00 WIB. Ketika itu seperti hari libur biasanya banyak masyarakat yang sedang bertamasya ke daerah pantai, karena wilayah pantai kota serambi mekah itu nan elok dipandang dan sangat indah. Begitupun masyarakat yang tidak atau belum berpergian kemana-mana ada yang sedang nonton TV, tidur-tiduran atau yang sedang diperjalan menuju arah tujuan tamasya. Kejadian itu sangat menadadak dimulai dengan terjadinya gempa dahsyat kemudian air laut surut tapi tidak berapa lama kemudian air laut tersebut bagaikan digerakan oleh sesuatu yang maha perkasa muncrat ke permukaan laut dan menghanyutkan berbagai bangunan, pepohonan bahkan kapal diesel pembangkit listrik (besar dan ribuan ton beratnya, red) yang dipinjam dari Kalimantan yang terletak di pantai Uleuleu terbawa gelombang tsunami kurang lebih sepanjang 2 Km dan terhempas di tengah perkampungan Punge Blang Cut. Kejadian tersebut meluluh lantahkan berbagai sendi kehidupan, baik berupa materi maupun mental masyarakat (kehilangan sanak saudara, kehilangan harta benda, infrastruktur rusak serta kehilangan semangat hidup dan prustasi akibat musibah yang menimpa dirinya). Banyak masyarakat yang marah-marah akibat nasib mereka sudah berbulan-bulan belum menentu, mereka hidup masih di bawah tenda-tenda, barak-barak dan tempat-tempat penampungan lainnya. Hal tersebut di atas diperparah dengan banyaknya NGO yang datang hanya menjanjikan sesuatu tapi mereka hanya mendata dan tak kunjung kembali lagi. Tetapi keadaan tersebut secara perlahan tapi pasti mulai berubah. Semangat masyarakat sedikit demi sedikit mulai bangkit terutama setelah program penyiapan masyarakat yang dibawa melalui P2KP dengan konsepnya meningkatkan olah rasa, seperti meningkatkan rasa persaudaraan, rasa senasib sepenanggungan, rasa persaudaraan dan rasa gotong royong telah membawa kesadaran masyarakat untuk bangkit dan berbuat sesuatu yang berarti. Masyarakat yang pada mulanya mencibir program ini karena hanya rapat dan rapat, sementara program lainnya bersifat instan langsung bagi-bagi kebutuhan masyarakat seperti bahan-bahan pokok pangan dan sandang serta kesehatan juga untuk membersihkan rumahnya sendiri atau membersihkan lingkungannya di sekitar rumah atau disekitar puing-puing reruntuhan di bayar per hari Rp. 40.000,-. Sedangkan konsep yang dibangun P2KP adalah konsep kerelawanan yang nota bene tidak dibayar memang sangat menentang arus dan penuh tantangan. Tapi semuanya itu dengan kerja keras dan penuh kesabaran perlahan tapi pasti masyarakat mulai menuai hasilnya. Dimulai setelah terbentuk KERAP (Komite Rehabilitasi Permukiman) sebuah lembaga yang dibuat atas dasar kesadaran dan kebutuhan masyarkat, yang beranggotakan berdasarkan keterwakilan sifat-sifat universal (sifat baik manusia seperti jujur, adil dapat dipercaya, bertanggung jawab dll) mereka mulai muncul ke permukaan. KERAP seringkali presentasi di depan NGO-NGO, bahkan di depan ketua BRR (Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi) dan lain sebagainya. Bahkan beberapa KERAP dipercaya oleh beberapa NGO untuk mengelola kegiatannya seperti KERAP Kelurahan Keuramat mengelola kegiatan pembangunan rumah dan infrastruktur dari UN Habitat, KERAP Kelurahan Peunayong mendapatkan bantuan dan mengelolanya dari Nurani Dunia (pimpinan Imam Prasojo, red), KERAP kelurahan Mulia mengelola bantuan dari Worl Vision dan banyak lagi KERAP-KERAP yang lainnya yang kalau disebutkan satu persatu akan banyak menghabiskan halaman ini. KERAP dikenal dimana-mana khususnya di Kota Banda Aceh, mereka lebih dikenal dibandingkan dengan lurahnya sendiri. Hal itulah yang menjadi dorongan semangat untuk terus dan terus mengabdi bersama masyarakat. Sayangnya tugas itu hanya berlangsung satu tahun lebih satu bulan karena sudah mendapatkan tugas baru yang tidak kalah menangtangnya yaitu ditugaskan ke wilayah ujung yang paling Timur di Indonesia yaitu tepatnya di propinsi Papua (&lt;em&gt;Kota Jayapura, red&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Di propinsi paling timur inilah (propinsi Papua) pada awal bulan Juni di mobilisasi, sebenarnya persiapannya sudah satu bulan sebelumnya. Tantangan yang pertama kali dihadapi adalah ketika Tim Pilot Project berkunjung ke kantor PPK (Program Pengembangan Kecamatan, red) di Jakarta, ketika itu kami mendapat gambaran tentang kondisi Papua secara umum dan terkesan bahwa banyak program-program atau proyek-proyek selalu gagal di propinsi paling timur wilayah Indonesia ini. Setelah tim dimobilisasi gambaran tersebut semakin meyakinkan akan kebenarannya, dimana ketika bertemu dengan assisten satker propinsi (Ir. Diah LY Dianingsih, red) beliau mengatakan &lt;em&gt;”P2KP tidak cocok di Papua, katanya masyarakat bisa berkelahi sendiri di antara mereka, tapi tetap perlu dicoba. Hal ini disebabkan banyak program seperti dari PU misalnya program bantuan bahan bangunan yang diberikan kepada masyarakat baik yang secara langsung atau bergulir tidak jalan. Banyak masyarakat yang menjualnya kembali bahan-bahan bangunan tersebut. Contoh lainnya adalah semua program bantuan ekonomi bergulir tidak berjalan karena tidak pernah dikembalikan, bahkan kalau ditagih ancaman parang yang dihadapi”. Tetapi semua itu jangan menyurutkan semangat bahkan harus dicoba sambungnya. &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/135/3805/1600/SSA50965.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 154px" height="141" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/135/3805/200/SSA50965.jpg" width="150" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Terlebih lagi setelah tim turun ke wilayah kelurahan sasaran saat pemetaan sosial, banyak tokoh masyarakat yang bercerita hal yang sama. Keadaan tersebut tidak menyurutkan semangat kami bahkan timbul semangat dan tekad yang kuat untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakat Jayapura khususnya umumnya untuk propinsi Papua. Itulah sekelumit perjalanan dari Ujung Barat ke Ujung Timur. Ingin mengikuti cerita P2KP di Papua klik aja&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34518436-115841462103806841?l=ubut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ubut.blogspot.com/feeds/115841462103806841/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34518436&amp;postID=115841462103806841' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34518436/posts/default/115841462103806841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34518436/posts/default/115841462103806841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ubut.blogspot.com/2006/09/dari-ujung-barat-ke-ujung-timur.html' title='Dari Ujung Barat ke Ujung Timur'/><author><name>Sepenggal Kisah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13799876874034519170</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
